ESXi vSwitch

Assalamualaikumwarrohmatullohiwabarokatuh 🙂
Virtual switch atau istilah dalam VMware biasa disebut dengan vSwitch digunakan untuk menghubungkn koneksi antara network fisik host dan network virtual host. Koneksi ini dihubungkan menggunakan NIC yang terhubung ke perangkat jaringan (switch, router, dll).

Jadi VM (Virtual Machine), server, client dan perangkat jaringan lainnya terhubung oleh vSwitch melalui NIC pada host ESXi. vSwitch juga mendukung feature-feature seperti switch fisik pada umumnya seperti trunking (802.3ad Link aggregation) dan VLAN tagging (802.1q). Beberapa NIC pada host ESXi dapat diassign ke dalam satu vSwitch untuk mendukung load balancing, penambahan bandwidth, dan koneksi redundant (fail over). Akan tetapi vSwitch dapat dibuat minimal pada masing-masing NIC.
Pada coretan saya kali ini akan sedikit berbagi ilmu tentang membuat vSwitch, ada dua tipe koneksi didalam vSwitch yaitu Virtual Machine dan VMkernel. Apa perbedaannya? perbedaannya adalah Virtual Machine digunakan untuk keperluan NIC virtual pada VM dan VMkernel digunakan untuk interface virtual pada host ESXi.
VMkernel

Sebagai contoh pertama coba kita buat connection type VMkernel, langkah pertama adalah login ke vSphere menggunakan vSphere client, Klik menu Configuration > Networking.
Untuk membuat vSwitch klik pada link Add Networking.
Kemudian akan muncul jendela yang menanyakan tipe koneksi apa yang akan kita buat yaitu Virtual Machine atau VMkernel. Karena pertama saya akan buat VMkernel maka klik radio button pada VMkernel. Biasanya koneksi ini dibuat dengan tujuan membut jalur masing-masing untuk ESXi service seperti vMotion, iSCSI, host management traffic, fail tolerance logging.
Klik Next, setelah itu akan lanjut ke halaman Network Access yaitu kita memilih NIC mana yang akan kita pilih untuk membuat vSwitch baru. Untuk membuat switch baru klik pada Create vSphere standard switch lalu pilih salah satu NIC yang belum terpakai yaitu vmnic1.
Klik Next, kemudian kita beri nama untuk VMkernel yang dibuat dan centang service apa yang bisa dihandle oleh VMkernel yang akan dibuat ini. Sebagai contoh vMotion.
Catatan : Best practice satu VMkernel menghandle satu ESXi service untuk menghindari beban traffic yang terlalu besar.
Klik Next, pada sub opsi IP Settings assign IP address untuk VMkernel.
Setelah selesai klik Finish.
Virtual Machine

Selanjutnya adalah membuat koneksi dengan tipe Virtual Machine, tipe ini biasanya digunakan untuk menghubungkan koneksi antara VM dan jaringan fisik. Langkah untuk membuat connection Virtual Machine adalah klik link Add Networking, kemudian pilih Virtual Machine.
Kemudian di opsi Network Access pilih vSwitch1 yang sudah dibuat tadi.
Opsi selanjutnya beri label sebagai contoh yaitu ‘VM network 2’.
Setelah selesai klik Finish.
Gambar diatas menunjukkan bahwa port VM Network 2 belum digunakan sehingga tidak ada daftar VM dibawahnya, bila sudah digunakan akan muncul daftar VM yang menggunakan port tersebut seperti pada gambar dibawah ini.

SNAPSHOT VM DI ESXI

Apa itu Snapshot?. Snapshot di ESXi adalah sebuah tools yang berfungsi sebagai Check Point atau seperti sistem Restore pada Windows. Sehingga apabila kita membuat suatu titik kemudian kita lakukan perubahan VM seperti install, update, upgrade aplikasi dll kemudian terjadi error selama proses tersebut. Kita dapat mengembalikan suatu keadaan VM ke titik yang kita buat sebelumnya. Penjelasan tadi dapat diilustrasikan seperti gambar berikut.
Sebagai contoh kasus saya ambil contoh sederhana saja, yaitu saya akan membuat sebuah folder dan sebuah file text sederhana, saya beri nama sebuah folder ‘coba‘ dan file text ‘coba‘. Namun sebelum itu saya bikin sebuah titik snapshot di VM terlebih dahulu.
Bila kita lihat di Snapshot Manager akan muncul seperti gambar dibawah ini. Menunjukkan bahwa kondisi VM berada pada keadaan Snapshot yang tadi diberi nama sebelum.
                            
Setelah itu barulah saya create folder baru dan file text, di folder My Documents.

Setelah dibuat folder dan file text tadi, kita rollback kembali keadaan VM pada saat sebelum dibuat folder dan text tersebut. Namun untuk jaga-jaga apabila nanti dikehendaki untuk menuju ke keadaan VM setelah dibuat folder dan text kembali kita buat lagi titik Snapshotnya.
Sehingga VM berada pada kondisi Snapshot sesudah pembuatan folder dan file. Kemudian rollback kembali VM ke keadaan sebelum pembuatan folder dan file melalui Snapshot Manager dengan klik tombol Go to ke titik snapshot dengan nama sebelum.
Maka bila kita lihat di VM folder dan file text tadi tidak ada, apabila kita ingin mengembalikan VM ke keadaan setelah pembuatan folder dan text tinggal kita Go to ke titik snapshot dengan nama sesudah.
Sebagai cacatan analogi folder dan file tadi hanya untuk contoh sederhana, dalam implementasinya biasanya digunakan untuk persiapan sebelum update aplikasi, upgrade sistem operasi, dll.

DEPLOY VM MENGGUNAKAN OVF

Assalamualaikum warrohmatullohiwabarokatuh 🙂

Seperti pada pembahasan sebelumnya bahwa ada beberapa cara untuk membangun VM. Coretan kali ini akan membahas bagaimana membangun VM dengan cara mendeploy OVF (Open Virtualization Format). OVF atau bisa juga menggunakan OVA sebenarnya adalah sebuah template OS sehingga sewaktu kita deploy ke vSphere VM tersebut sudah dalam bentuk jadi, tidak perlu melakukan instalasi OS dari awal.
Langsung saja untu mendeploy OVF di vSphere cukup mudah, ikuti langkah-langkah berikut.

Remote vSphere menggnakan vSphere Client, kemudian deploy OVF dengan cara klik File > Deploy OVF Template.
Pertama akan muncul opsi Source disini kita browse file sumber OVF. Sebagai contoh saya akan mendeploy VM Ubuntu Server 12.04 64 bit.
Selanjutnya akan muncul details informasi VM yang akan kita deploy di opsi OVF Telmplate Details.
Opsi selanjutnya di Name and Location kita beri nama VM sesuai keinginan, seperti contoh Ubuntu.
Setelah itu kita diharuskan memilih format disk di opsi Disk Format, pilih salah satu Thick Provision Lazy Zeroed, Thick Provision Eager Zeroed atau Thin Provision. Contoh kali ini menggunakan Thin Provision.
Setelah siap untuk deploy klik Finish. Setelah itu akan muncul proses deploy di vSphere.
Setelah selesai kita bisa start VM ubuntu.
Untuk melihat tampilan VM kita bisa bukan melalui icon open console.

MEMBANGUN VM DI VSPHERE

Assalamualaikumwarrohmatullahiwabarokatuh 🙂

Lanjut postingan lagi mengenai VMware vSphere, postingan kali ini akan membahas bagaimana membangun VM di vSphere. Ada dua cara yaitu melakukan instalasi VM dari awal dengan menggunakan file .iso atau mendeploy VM yang sudah jadi menggunakan file .ova atau .ovf

Oke, langsung saja untuk membangun VM pertama kali kita masuk vSphere Client terlebih dahulu. Kemudian klik File > New > Virtual Machine.
Kemudian muncul jendela yang berfungsi sebagai konfigurasi pra-install VM. Pertama menu Configuration pilih opsi Typical.
Isikan nama VM yang akan kita buat, sebagai contoh karena saya akan install Windows XP, saya beri nama ‘Jendela’.
Berikutnya di menu Storage diharuskan kita memilih hardisk sebagai tempat datastore VM. Sebagai contoh pilih storage local dengan nama datastore1.
Di menu selanjutnya ‘Guest Operating System‘ kita diharuskan memilih jenis OS yang akan diinstall. Karena yang akan diinstall Windows XP maka pilih Guest Operating System ‘Windows’ dan Version ‘Windows XP Profesional’.
Lanjut ke menu Network secara kita akan ditanya berapa banyak card network (NIC) yang terpasang di VM yang kita buat. Gunakan NIC default yaitu ‘VM Network‘.
Setelah itu kita tentukan ukuran kapasitas disk VM, karena ini sekedar contoh saya kasih ukuran 8 GB. dengan tipe Thin Provision. Kenapa gunakan Thin Provision? karena pemakain space pada datastore akan lebih efisien.
Klik finsih kemudian lakukan instalasi VM.
Namun sebelum lakukan instalasi kita upload terlebih dahulu file .iso yang dijadikan sebagai sumber instalasi VM. Kita upload dengan masuk ke menu Configuration > Storage > Browse Datastore.
Buat sebuah folder dengan nama ‘File ISO‘ lakukan upload file .iso dengan klik simbol upload.
Tutup jendela Datastore kemudian edit pengaturan VM di ‘Edit virtual machines settings‘.
Arahkan CD/DVD drive VM ke images file .iso yang barusan diupload ke datastore.
Tutup pengaturan edit virtual machine, kemudian aktifkan VM dengan klik ‘Power on the virtual machine‘.
Setelah aktif klik icon open console untuk melihat tampilan dari virtual machine. Seperti instalasi Windows XP pada umumnya pertama akan dilakukan instalasi OS, dan berikut adalah tampilan Windows XP yang selesai diinstall.

KONFIGURASI vSPHERE MENGGUNAKAN vSPHERE CLIENT

Assalamu’alaikumwarrohmatullahiwabarokatuh. 🙂

Salam sejahtera bagi kita semua, setelah postingan pertama mengenai vSphere sekarang postingan selanjutnya akan dibahas bagaimana cara konfigurasi vSphere. Ada beberapa cara untuk melakukan konfigurasi vSphere antara lain menggunakan vSphere Client dan vSphere Web Client. Namun yang akan dibahas di postingan ini adalah konfigurasi menggunan vSphere Client karena untuk vSphere Web Client pertama kita harus membangun vCenter terlebih dahulu.
Untuk informasi bahwa vSphere client hanya tersedia untuk operating system windows yaitu berekstensi .exe dan bisa didownload disini. Download file tersebut kemudian install, ikuti langkah instalasi klik next sampai finish.
Sebelum kita remote menggunakan vSphere client terlebih dahulu kita pastikan alamat IP dari vSphere Servernya. Untuk konfigurasi IP vSphere Server kita masuk ke wizard vSphere dan tekan tombol F2 kemudian masukkan password saat waktu instalasi pertama kali.
Atur IP address di menu Configure Management Network.
Masuk lagi ke opsi IP Configuration.
Hendaknya lebih baik kita atur dengan IP static, sebagai contoh saya gunakan IP 192.168.156.200 untuk vSphere Server, Anda bisa gunakan IP yang lain sesuai manajemen pengalamatan IP masing-masing.
Tekan Enter, kemdian tekan lagi tombol Esc kemudian akan muncul konfirmasi berikut, kita tekan Y untuk menyetujui pengaturan network yang sudah kita tetapkan tadi.
Langsung saja di sisi client kita buka aplikasi vSphere Client kemudian masukkan alamat IP vSphere Server dan juga username beserta password.
Setelah login berhasil akan muncul jendela konfigurasi vSphere berbasis GUI yang memudahkan kita memulai membangun virtualisasi.
Sekian postingan sederhana untuk kali ini 🙂
Wassalamualaikumwarrohmatullohiwabarokatuh..

INSTALL vSPHERE DI VMWARE WORKSTATION

Assalamualaikumwarrohmatullohiwabarokatuh.

Salam sejahtera bagi kita semua, dan alhamdulillah saya diberi kesehatan sehingga bisa nulis postingan di blog ini lagi. 🙂 Sedikit cerita dari tanggal 7 – 8 Desember 2013 kemaren saya mengikuti training di Excellent belajar materi tentang VMware vSphere yaitu produk dari perusahaan VMware yang dikhususkan untuk membuat Virtual Machine yang biasa digunakan di Datacenter. Dan sekarang saya akan mencoba menulis postingan-postingan terkait dengan vSphere semoaga bisa bermanfaat bagi pembaca dan juga saya sendiri karena kadang kalo lupa bisa review blog sendiri.hehe…
Oke, untuk postingan pertama mengenai vSphere saya akan membahas tentang bagaimana cara instalasi vSphere. Karena product ini biasanya digunakan di Datacenter maka komputer server harus memiliki spesifikasi hardware yang tinggi, berikut adalah minimum requiretment yang saya peroleh informasinya dari sini :
  • Prosesor :
  1. Prosesor 64 bit
  2. Minimal memiliki 2 core
  3. Support LAHF dan SAHF
  • Untuk performence yang tinggai minimal RAM 8GB
  • Support Hardware Virtualization (Intel VT-x atau AMD RVI)
  • Network Adapter 10 Gbps
Karena saya tidak punya komputer server yang akan saya gunakan untuk instalasi maka untuk keperluan ngelab saya gunakan cara instalasi diatas VMware workstation. Ini dinamakan ‘Nested‘ karena kita akan membangun VM diatas VM. Untuk versi terbaru sejak postingan ini dibuat adalah VMware vShpere 5.5 bisa dilihat disini. Namun karena kebutuhan spesifikasi yang terlalu tinggi yang harus disyaratkan untuk VMware vSphere 5.5 saya gunakan VMware vSphere versi 5.1 yang bisa berjalan dengan baik dengan RAM 4 GB. Berikut adalah spesifikasi yang saya gunakan untuk instalasi vSphere diatas VMware Workstation :
  1. Prosesor 2 core
  2. RAM 4 GB
  3. Hardisk (ISCSI) 40 GB
  4. Network Adapter 1 Gbps
Setelah kita sudah tentukan spesifkasi hardware yang digunakan bisa langsung kita klik ‘Start’ untuk menghidupkan VM vSphere. 

Tampilan pertama akan langsung muncul 2 opsi, yaitu kita langsung install ESXi atau Boot menggunakan local disk. Untuk install kita gunakan pilihan pertama.
Sebelum melakukan instalasi sebelumnya akan ada proses yang cukup lama yaitu mengedintifikasi sistem server kita sampai muncul pilihan storage (hardisk) yang akan kita pilih untuk keperluan installl vSphere.

Pilih storage local yang tersedia yaitu dengan kapasitas 40 GB yang saya miliki.
Isikan root password yaitu password yang akan digunakan untuk login kita ke  konfigurasi vSphere.
Tekan tombol F11 pada keyboard untuk konfirmasi melakukan install vSphere, tunggu sampai selesai dan server bisa di reboot.
Tampilan setelah selesai proses instalasi adalah seperti gambar diatas.
Cukup mudah untuk melakukan instalasi vSphere tidak perlu konfigurasi yang rumit. Oke, semoga bermanfaat bagi pembaca semua.
Wassalamualaikumwarrohmatullahiwabarokatuh..